KOMUNITAS UNGU
 
Indonesia dan 21 April, menjadi tanda atas memori perayaan Hari Kartini. Sebenarnya apa yang diinginkan melalui perayaan ini? Apakah ini menandai sebuah penghargaan terhadap perjuangan perempuan Indonesia? Ataukah justru sebagai penyempitan “pesta sehari” bagi perempuan? Ada yang beramai-ramai merayakan dengan pesta baju adat dan perlombaan-perlombaan “khas” perempuan. Sejak April datang, mal-mal berlomba-lomba mempromosikan potongan harga khusus untuk item-item perempuan. Berbagai talkshow bertemakan “perempuan” dihadirkan. Namun, ada pula yang mempertanyakan, kenapa harus Kartini? Bagi mereka Kartini adalah simbol dari Jawaisme pada era orde baru. Lalu dimana ruang perayaan bagi pahlawan perempuan lainnya?
 
 
Malam ini aku harus keluar, bertelanjang kaki bukan karena aku senang. Tapi karena aku tidak mempunyai sandal karet, sepatu hitamku yang sudah usang harus dijaga sebaik mungkin untukku sekolah agar dapat bertahan paling tidak setahun lagi sampai aku dapat membeli yang baru atau mendapat sumbangan dari tetangga.

Kaki ngilu dan perih karena luka lecet yang kualami, telapakpun terasa gatal dan sakit sesekali. Tidak apa. Aku sudah biasa dengan rasa ini. Perlahan kuberjalan yang kadang-kadang kuberjingkat-jingkat kecil menghampiri rumah dempet nan mungil nan sederhana. Memanggil temanku Wulandari yang sangat pemalu namun galak itu.

Ia sedang berada diambang pintu sambil memeluk gitar mungilnya alias ukulele. Ia membelalakan matanya dan melesat menghampiriku. Menggaetku dan menarikku untuk berlari. Terdengar teriakan dari dalam rumahnya. Sebuah suara parau yang berat dan keras.
 
 
Pergerakan perempuan ditandai pada tanggal 8 Maret sebagai simbol dari kebebasan pikiran dan tindakan perempuan. Ketika pemikiran dan keseharian perempuan diminggirkan dalam masyarakat patriarkal, maka suara-suara yang terbungkam tersebut memberontak dan ingin didengarkan. Perjuangan ini merupakan peringatan atas memori kolektif yang menandai tanggal tersebut. Ratusan buruh perempuan terbunuh, ratusan pemikiran perempuan dimatikan demi kelanggengan dominasi kuasa patriarkal. Apakah kita akan selalu diam dan mengikuti sistem? Itulah tantangan dari perayaan tanggal 8 Maret. Bukan sekedar euforia berbentuk aksi sehari dan melupakan pemaknaan yang ada.
 
K.U.P.U. 03/10/2010
 
Pemikiran-pemikiran yang berterbangan sebenarnya mampu memberikan inspirasi bagi pencarian pengetahuan orang lain. Persoalannya, banyak dari pemikiran tersebut tidak dituliskan. Kata K.U.P.U yang mewakili kepakan ide-ide yang beterbangan ini merupakan wadah bagi seluruh anggota untuk membagi pemikirannya.

Komunitas.Ungu.Punya.Unek-Unek, adalah ruang dimana setiap pemikiran tertulis dan didiskusikan, Dari pemikiran filsafat, hingga hal-hal sederhana mengenai gaya hidup menjadi bagian dari diskusi di sini. Kembali pada akarnya, yakni mewujudkan perubahan menuju kesetaraan kemanusiaan. K.U.P.U adalah ruang untuk semua pemikir yang bebas.

Mari bebaskan pikiran kita melalui tulisan-tulisan revolusioner!

Tabik!